Menulikan telinga tapi terdengar juga

~menulikan telinga tapi terdengar juga~

by Suci Pri Hatiningsih on Saturday, December 11, 2010 at 11:02am

Siang itu antrian panjang di jalur pembayaran online di kantor Oriflame Bandung. Hari pertama periode katalog. Saya tetap masuk ke antrian itu, meskipun dalam hati menggumam, Masya Allah baru awal periode sudah sepanjang ini antriannya. Bagaimana hari-hari selanjutnya? Sudah ada enam orang di depan saya.

Sambil membaca status teman-teman di handphone, saya berdiri mengikuti alur antrian. Waduh di depan saya ibu-ibu dengan wajah judes, tidak bisa diajak ngobrol. Ya sudahlah, lebih baik baca terus status teman-teman sambil sesekali berkomentar atau sekedar menyukai status mereka.

Kurang lebih lima belas menit, saya masih tetap berdiri di tempat yang sama. Datanglah seorang ibu muda, mengambil tempat di belakang saya. Senyum saya untuknya sambil menjawab sapaan ramahnya. Itu saja.

Masuklah lagi seorang ibu yang mungkin lebih tua sedikit dari ibu yang berdiri di belakang saya. Yang ini lebih juges wajahnya dari ibu yang berdiri di depan saya. Alhamdulillah masih ada yang ramah di antara pengantri itu.

Mulailah dua ibu yang berdiri di belakang saya mengobrol. Itu biasa dalam antrian. Saya juga suka menyapa siapa saja yang berdiri atau duduk di sekitar saya. Tapi kali ini saya tidak berminat nimbrung. Lebih asyik membaca. Dalam hati menyesali, kenapa tadi tidak bawa buku.

Dua ibu di belakang saya makin asyik ngobrol kelihatannya. Tapi tiba-tiba ibu yang berdiri persis di belakang saya menyenggol-nyenggol lengan saya. Saya pun menoleh sambil tersenyum. Rupanya obrolan mereka sudah mulai tidak menyenangkan. Mau tidak mau saya ikut mendengarkan, biarpun saya sangat tidak suka mendengarkan kata-kata yang dilontarkan ibu yang berdiri selang satu orang di belakang saya itu.

Bagaimana harus saya suka kalau ibu itu berbicara segala hal yang tidak menyenangkan tentang apa yang sedang kami geluti saat ini. Ibu yang di belakang saya selalu berusaha menetralkan pembicaraan itu. Tapi rupanya kurang berhasil. Saya memberi tanda dengan kedipan mata, agar tidak usah melihat ke belakang. Saya beri contoh dengan menunjuk handphone saya. Ibu itu tersenyum. Alhamdulillah katanya, yang sempat saya dengar.

Ternyata ibu judes itu tetap berusaha mengajaknya ngobrol.

Save by the bell….

Handphone-nya bergetar, saya merasakannya karena tasnya menempel di punggung saya.

Alhamdulillah, lagi-lagi ibu ini bergumam. Saya tersenyum ketika menoleh ke belakang.

” Anak saya, teh ! ” katanya.

Saya tersenyum lagi.

Saya mengerti, ibu itu terselamatkan dari pembicaraan yang tidak menyenangkan oleh panggilan anaknya.

Saya juga bingung, kenapa ibu judes itu berbicara sesuatu yang buruk tentang bisnis yang digelutiya sendiri sambil membanding-bandingkan dengan bisnis lain yang katanya lebih menguntungkan. Biarlah ibu judes itu dengan pikirannya. Saya dan ibu-ibu lain tidak terlalu mempedulikannya lagi.

Ibu yang di depan saya berbisik, ” Kenapa dia masih berdiri di situ kalau tidak suka bisnis ini ? “

Saya jawab, ” Iya, ya, Bu. Aneh ! “

Giliran ibu di depan saya maju ke kasir di depan kami. Saya pun mulai menyiapkan berkas catatan pesanan yang mau saya bayar. Ada dua belas nama rekanan saya yang harus saya bayar pesanannya. Perlu waktu lebih dari sepuluh menit untuk proses pembayaran itu.

Alhamdulillah, ibu di depan saya tidak sejudes wajahnya. Malah pamit juga ketika hendak meninggalkan antrian.

Rupanya yang di belakang saya makin menjadi obrolannya. Kasihan pendengarnya.

” Berapa juta sih ordernya ? Sampai lama banget di depan kasir ? ” Terdengar pertanyaan itu ketika saya ada di depan kasir. Sambil tersenyum saya melihat ke belakang.

Ibu yang berdiri persis di belakang saya menjelingkan mata ke atas. Ya Allah, berikan kesabaran lebih untuknya.

Saya malas membalas pertanyaan itu. Rasanya itu pertanyaan retorika yang tidak perlu dijawab.

Setelah memproses pembayaran saya, kasir berdiri dari kursinya untuk mengambil print-out bukti bayar, selanjutnya difax ke kantor cabang Oriflame Balikpapan.

” Ngapain lagi kasirnya, pergi segala ? ” Gumaman yang sampai ke telinga saya.

Kali ini saya sudah tidak peduli lagi, jadi tidak mau menoleh.

Bereslah urusan saya dengan kasir hari itu.

Alhamdulillah…..

Saya pun mengucapkan terima kasih kepada kasir cantik yang penyabar itu. Kemudian pamit kepada ibu muda yang berdiri di belakang saya, yang dijawab dengan ramah. ” Sampai ketemu lagi, teh ! ” katanya.

Untung hari itu saya tidak perlu mengantri untuk menunggu barang dari gudang, jadi bisa langsung pergi dari kantor.

Sebab pihak kantor Oriflame Balikpapan yang akan mengirim semua barang pesanan itu langsung ke pemesannya.

Peristiwa biasa saja sebenarnya. Tapi saya ingin mengingatnya.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: