~Keblasuk di Bol Brutu~

Sekitar bulan Agustus 2010, kutau nama itu di akun facebook temanku, mas Kris Budiman. Semula kulihat sekilas saja.
Kadang kutanya kepada mas Kris, foto apa itu? Kok seperti batu candi?
Mas Kris menjawab singkat, ini dari situs Candi X, misalnya.

Dari foto-fotonya mas Kris, sering ada tag untuk nama yang agak aneh di mataku, Cuk Riomandha. Kubuka profilenya yang memang terbuka lebar, selebar penampilan fisik orangnya.
Wow, dokumentasi foto perjalanannya lebih gila dari yang kuduga.
Entah siapa yang duluan request, kami pun tersambung dalam pertemanan. Berikutnya sudah bisa diduga, tag foto perjalanannya juga bermunculan di wall-ku dari mas Cuk Riomandha.

Menjadi sangat menarik buatku, foto-foto mereka bersama teman-teman, sangat ng-arkeologi banget. Diskusi mereka dalam komentar-komentar pun buatku unik dan sangat ngawur sekali. Tapi lebih sering membuatku sakit perut karena tertawa sendiri. Sebab analisa ngawur dari mereka memperlihatkan kecerdasan mereka yang tersembunyi di balik komentar-komentar yang spontan dan memancing sense of humor siapa pun yang membacanya.

Apa itu Bol Brutu?
Tanyaku pada mas Kris.

Jawabannya tidak ada selain kemudian namaku sudah tercantum dalam keanggotaan grup itu di bulan September 2010.
Mulailah kubuka semua yang bisa kubuka di grup itu.

Waah, ini seperti wadah yang kuinginkan selama ini.
Sebagai ‘desertir’ Arkeologi yang tersingkir dari delapan kali kompetisi penelusuran Pegawai Negeri Direktorat Jendral Kebudayaan, rasanya asyik banget jika bisa eksis mengikuti kegiatan Bol Brutu. Mengingatkan ku pada kegiatan sepulang kuliah dulu bersama kakak-kakak tingkat yang mengantarkan kami ke situs-situs purbakala.

Tidak perlu kubahas apa itu Bol Brutu dan apa isinya. Sudah banyak teman yang menguraikan apa itu Bol Brutu dalam tulisan mereka. Yang penting aku diterima dulu di situ.
Jika di grup lain ada basa-basi penyambutan ketika ada anggota yang baru masuk, atau kulanuwun ketika masuk, di grup ini tidak ada ritual semacam itu.
Tidak ada Opspek atau gojlogan apa pun.

Kutemukan banyak hal unik di Bol Brutu, di antaranya berbagai disiplin ilmu dan sektor pekerjaan dari para anggotanya.
Semuanya manusia pintar yang sepertinya membutuhkan hal ringan untuk melepas kepenatan dan kejenuhan rutinitas kerja dengan berburu batu masa lalu. Memotretnya untuk yang suka dan punya kamera, lalu mengunggahnya di dinding Facebook masing-masing, jika mau.
Jika mau?
Yaa, sebab banyak juga fotografer di Bol Brutu yang jarang atau bahkan tidak pernah menggunggah hasil fotonya di dinding Facebooknya.
Itu aku tidak tau alasannya. Biarkan saja lah.

Bulan Oktober 2010, Bol Brutu milad yang pertama. Sayangnya aku tidak bisa menghadirinya, karena posisi masih di Bandung. Kuikuti event ulang tahun itu dari foto-foto mereka saja.

Beberapa bulan menjadi bagian dari Bol Brutu, makin menarik minatku untuk tiap hari selalu update info mereka.
Ternyata sudah sekian banyak situs yang mereka kunjungi dan semuanya seperti menyentilku.
Kok aku yang berlatar belakang pendidikan Arkeologi nggak tau apa-apa yaa?
Sehingga aku masih diam kalau tidak ditag foto dari mas Kris atau mas Cuk.

Hal unik lain pun muncul di benakku, kubuka satu persatu profile anggotanya. Yaa, Tuhan, mereka itu ayu-ayu dan bagus-bagus. Tapi kok nafsu banget yaa kalau sudah lihat batu purba?
Itu kusimpulkan dari hasil foto-foto mereka yang di-post di grup maupun yang di-share di dinding mereka, karena rata-rata mereka tidak mengunci ‘rumah’ mereka, sehingga aku yang belum berteman dengan mereka bisa membukanya.

Masya Allah……
Arkeolog saja nggak sampai segitunya mengamati batu masa lampau.
Para Brutu justru sangat memperhatikan detil yang ada di batu-batu itu. Bahkan sampai ke hal-hal yang mungkin tidak menjadi perhatian para Arkeolog.

Menjelang milad kedua, baru aku sempat bergabung secara langsung dengan mereka di Candi Ngawen. Kumanfaatkan untuk memotret dan sedikit membuat sketsa yang sangat jauh dari sempurna. Karena kuakui aku masih canggung berada di antara para Brutu itu. Meskipun ada Mas Kris yang sejak lama sudah kukenal.

Di situ aku bertemu langsung dengan mbak Ninuk Retno Raras dan Boen Mada yang sudah tersambung berteman sebelumnya. Juga dengan mbak Dyah Merta dan mbak Feintje Likawati. Dan tentunya mas Kris Budiman.

Hingga milad Bol Brutu yang kedua pun aku belum punya kepercayaan diri untuk menampilkan fotoku maupun menulis di dinding grup. Baru pada tahap berkomentar sedikit serius, jika memang bisa kukomentari. Takut komentarku terlalu nyambung atau nggak lucu.

Milad kedua yang direncanakan di Candi Selogriyo Magelang, tentu saja kusambut dengan antusias untuk mengikutinya.
Aku mulai merasa nyaman karena sudah banyak anggotanya yang kukenal, meskipun baru melalui dunia maya.

Kepercayaan diriku sudah kembali, nuraniku terhadap benda purba pun semakin menemukan tempatnya.
Aku kembali ke masa di mana aku mendapatkan tempat layak untuk mencurahkan perhatian yang cuma sedikit ini pada hal-hal menarik dari masa lampau.

Hati nuraniku ternyata tetap tersimpan di bebatuan.
Terima kasih, Bol Brutu….
Kau telah berhasil membuatku ‘keblasuk’ lagi ke dalam masa yang menyenangkan itu.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: