Ketika aku jatuh cinta lagi….

Selogriyo yang tidak sunyi itu mungkin saksi bisu jatuhnya cintaku. Tidak seperti yang kuharapkan akan kesunyiannya. Harapan menjadi tempat penting yang syahdu.

Ah, kenapa aku jadi sakit mengenang peristiwa itu?
Sakit perasaanku menyebabkan rembesan ke badanku yang sebenarnya. Badanku tidak pernah sesehat dulu lagi.

Segitu dahsyatnya effek jatuh cinta?

Entahlah.
Aku sendiri tidak mau menjalani hidup seperti ini. Apa yang kudapat memang ‘belum’ sesuai harapan. Aku tidak tau apakah dia tau perasaanku ini.

Kusadari, siapa aku di antara mereka yang sudah lebih dulu dekat dengannya. Apalah artinya aku? Tidak penting mungkin.
Lagipula aku terlalu tua untuk jatuh cinta padanya.

Kalau pun beberapa hari ini aku nekad blak-blakan dengan beberapa teman, itu sekedar ingin mengurangi beban otak dan perasaanku.

Sedih sekali mengingat rasa ini.
Meskipun ketika perasaan ini muncul, sudah juga kusiapkan rasa yang lain, ikhlas seandainya dia sudah jadi milik orang lain.

Jatuh cinta….
Kadang terasa bodohnya aku dengan anugrah ini. Meskipun aku tetap bersyukur, Tuhan masih melimpahkan karunia ini untukku.

Aku mungkin terlalu naif, rendah diri atau apa.
Tapi kenapa justru keberanian dan percaya diri yang kutunjukkan padanya?
Di sinilah kutau kekuatan cinta itu.
Di satu sisi memberiku semangat, di sisi yang lain meluluhlantakkan hatiku sendiri yang berimbas pada melemahkan ketahanan badanku.

Ketika badanku sakit begini terasa sekali siksaan batin itu.
Mengingat aku bukan lagi gadis muda yang kuat menampung segala beban di pundak sendirian.

Aku menyadari kemungkinan patah hati itu pasti ada. Karena jamak akan hal itu.

Aku bukan tipe perempuan atraktif yang bisa menunjukkan perasaanku secara frontal. Aku butuh teman yang kupercaya untuk menyampaikan perasaan ini padanya.

Ada banyak perasaan takut yang menemani perasaan cintaku.
Takut dia sudah jadi milik perempuan lain.
Takut dia tidak menyukaiku sama sekali.
Takut di matanya aku bagai hantu pengganggu.
Ketakutan yang justru menjadi hantu buatku sendiri.

Jika saja aku mampu memberikan bisikan gaib ke telinganya, ingin kusampaikan rasa itu.
Jika saja aku punya hal istimewa yang bisa dilihatnya, ingin kutunjukkan itu padanya.
Agar dia tau perasaanku yang sebenarnya.

Sayangnya, aku tidak punya apa-apa. Cuma badan rapuh dan tidak sempurna ini yang kupunya.

Kebersamaan kecil-kecil dalam beberapa pertemuan kita, tetap kusimpan sebagai kenangan indah yang tidak mungkin kulupakan selamanya.

Jika perasaanku ini bertepuk sebelah tangan, akan kusiapkan hati yang selapang-lapangnya untuk menerimanya.
Naif juga mungkin kalau kukatakan, aku akan ikut berbahagia jika dia berbahagia meskipun tidak bersamaku.

Satu doaku pada-Nya.
Jika ada Ijin-Nya, satukan kami.
Jika tidak ada ijinnya, hanya Dia yang Maha Tau sebabnya.
Berikan aku keikhlasan yang setulus-tulusnya, Yaa Allah.
Hanya Engkau tempatku mengadukan kejujuranku.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: