Anak-anak

Saya adalah anak yang punya masa kecil yang lumayan meriah. Melalui masa-masa indah, tapi juga keras oleh disiplin orang tua yang menginginkan semua berjalan baik dari waktu ke waktu. Berbagai pengetahuan hidup saya dapatkan dari mereka. Bagaimana caranya agar saya bisa mengatasi apa yang saya hadapi, mereka ajarkan dengan penuh kasih saya dan disiplin.

Bukan saat yang mudah bagi saya melalui semua tahapan hidup hingga umur kepala empat begini. Dari mata normal saya, saya bisa melihat semua yang lewat di depan mata. Telinga saya juga mendengar banyak hal. Mulai dari yang mudah dimengerti, hingga yang sampai sekarang saya belum mengerti juga.

Orang tua saya selalu menjaga mata dan telinga kecil saya dari hal-hal yang buruk, jangan sampai terekam dalam ingatan tentang sesuatu yang buruk. Meskipun demikian disiplin tetap jadi landasan utama. Ini mungkin bekal abadi yang membuat saya sangat jarang minta tolong pada siapa pun.

Saat saya mulai tumbuh besar, apa yang saya tangkap semakin banyak. Hingga dewasa sekarang mungkin saya belum mendapatkan kelengkapan itu secara sempurna. Tapi saya bisa belajar dari apa yang saya lihat dan saya dengar.

Saya tidak menemukan apa yang saya dapatkan semasa kecil dulu pada keluarga masa kini.
Meskipun itu dilakukan oleh orang-orang terdekat saya.
Sehingga saya sering merasa gemas dengan kelakuan anak-anak sekarang.

Satu contoh kecil saja, tentang kesopanan.
Jarang saya lihat anak sekarang bicara pelan kepada orang tuanya. Malah cenderung membentak.
Tapi mungkin juga itu bukan berasal dari sifat asli anak itu, melainkan dari lingkungan. Entahlah…

Sementara itu dari sisi orang tuanya, saya semakin jarang melihat mereka membawa ke suasana berusaha keras untuk mewujudkan keinginan si anak.
Seringnya si anak berusaha bukan untuk dirinya sendiri, tapi dengan tujuan untuk mendapatkan ‘hadiah’ dari orang tua yang menjanjikannya bila bisa meraih target itu.

Saya iri pada anak-anak sekarang yang sudah penuh fasilitas terhidang di depannya. Mau ini, ada sarananya, mau itu, ada saja jalannya.

Bagaimana pun saya tetap seorang anak.

Categories: Catatan selintas | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: