Menikmati arti ketulusan

Saya punya banyak teman dari berbagai kalangan. Mulai dari teman sekolah, teman kuliah, teman kursus, teman komunitas hingga teman ketemu di jalan. Status mereka juga beragam. Saya kurang peduli dengan status. Yang penting enak dan nyambung ketika diajak ngobrol.

Nasib saya mungkin yaa, sering dijadikan tempat curhat mereka.
Ada yang mengeluhkan soal kelakuan temannya, ada yang suka cerita keluarganya dan lain sebagainya.

Ada satu teman, selanjutnya saya sebut A yang kayaknya hobby banget ngomongin jelek tentang temannya, sebut saja si B, kebetulan teman saya juga. Saya seperti biasa cukup mendengarkan saja atau sekedar berkomentar
Masak Sih?
Oya?
Masak sampai begitu?

Kesan saya teman yang satu ini, si A sangat membenci teman saya yang satu lagi itu, si B.
Sementara saya juga tidak jauh dengan B.
Serba salah.
Makanya saya memilih nggak berkomentar panjang lebar. Takutnya suatu saat komentar saya ini akan sampai juga ke telinga B.

Suatu saat saya lihat mereka narsis di fb.
Oke, saya maklumi.
Saya lupa memperhatikan perform mereka saat itu, yang ternyata selalu kembaran baju.
Weh?
Berikutnya, kali ini saya diajak serta.
Oke, saya pun turut.
Tetap saya tanpa berpikir serius tentang mereka.
Urusan mereka lah.

Belakangan saya sibuk, jadi jarang mereka undang kalau ketemuan yang berseragam itu.
Seragam pun ganti-ganti ketika ketemuan.
Hehehehehehehe……

Ini companion jenis apa yaa?

Oke, saya lupakan itu.
Nggak penting juga kok.

Saya memilih tidak berpikir apa-apa lagi.
Cenderung malas malah.

Puncaknya mungkin hari ini.
Saya dicurhati oleh B, karena ada yang berkomentar ngawur di fb.
Saya pun dengan senang hati menampungnya, bahkan berusaha menyelesaikan, sebab komentator itu teman saya juga, sebut saja C.
Dengan si C ini saya lalu menyelidiki, siapa yang berkomentar itu. Sebab si C merasa sudah agak lama nggak buka fb.
Seharian saya dan C menelusuri sambil menghibur B.
Akhirnya masalah clear juga.
Alhamdulillah.

Tapi tau nggak siiiiiiiiihhhhhhh……
Seharian ini ternyata A dan B berpesta merayakan ulang tahun A dengan lokasi makan-makan di dekat situ. Dekat rumah saya.

Saya nggak apa-apa nggak diundang.
Tapi gondoknya itu karena saya tegang seharian, mereka enak-enakan pesta.

O la la…… Yaa Tuhan.
Saya sedih karena hari ini saya sampai tidak fokus bekerja.
Tapi saya bahagia, karena uji kesabaran ini menjadi tanda kasih-Mu untuk saya.
Semoga saya selalu dapat memelihara rasa tanpa syarat ini dalam hal berteman.
Luaskanlah mata dan hati saya dalam memandang teman-teman saya.
Tanpa kasih-Mu, saya bukan siapa-siapa di dunia perkawanan yang serba membutuhkan hati lapang.
Terima kasih, Tuhan.

Sabtu seru.

Categories: curhat | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: